Oleh: GeE | 7 Desember 2008

Trans Semarang at 2009

BRT  (Bus Rapid Transit) akan segera diwujudkan di Kota Semarang. Hal ini tentu akan membawa angin segar bagi masyarakat Kota Semarang yang mendambakan fasilitas transportasi yang nyaman. Namun untuk mewujudkan ini, Pemerintah Kota Semarang menghadapi beberapa kendala, antara lain, lahan yang akan dipakai untuk halte masih ada yang dipakai untuk berjualan para PKL, banyaknya pengusaha angkutan umum yang keberatan akan adanya rencana pengadaan BRT, tidak memungkinkannya dibuatkan jalur khusus untuk BRT karena lebar jalan-jalan di Kota Semarang yang tidak terlalu lebar.Saya sebagai salah satu warga Kota Semarang, menyambut baik akan adanya rencana ini. Tapi saya merasa tetap saja ada yang kurang..

Kenapa ukuran haltenya kecil sekali? Apabila benar BRT akan difungsikan awal tahun 2009, maka animo masyarakat akan fasilitas transportasi ini kemungkinan akan besar, karena selama ini hanya tersedia angkutan umum yang sering ngetem, mahal, ugal-ugalan, dsb. Jika benar itu terjadi, maka para calon penumpang pada akhirnya akan menunggu di bawah halte BRT.

Mungkinkah kenyamanan akan diperoleh jika jalan yang dipakai oleh BRT berbaur menjadi satu dengan kendaraan lain? Jika jalur BRT disatukan dengan jalan yang ada, maka jika terjadi kemacetan, maka Bus BRT juga akan terlibat dalam kemacetan itu, apalagi jika kemacetan disebabkan oleh angkutan yang ngetem. Bukankah waktu merupakan salah satu faktor penting calon penumpang memilih angkutannya? Pernahkah anda naik angkutan yang terlalu sering dan lama dalam menunggu penumpang (ngetem), bagaimana rasanya? Pernahkah anda berkendaraan, dan di depan anda terdapat angkutang ngetem yang menyebakan laju kendaraan lain tersendat? Pada intinya, masyarakat Kota Semarang (pada umumnya) menginginkan solusi transportasi yang nyaman dan aman. Tidak macet, aman, murah, tepat waktu, tidak ngetem (pengennya yang enak-enak ya :) ).

Mungkin masih ada beberapa masalah lagi yang belum sempat saya sentuh, besok-besok lah kalau ketemu.. Hehe..


Tanggapan

  1. YANG PASTI SELAMA BRT BELUM PUNYA JALUR KHUSUS DAN HALTENYA MASIH TERPISAH-PISAH (HARUS NYEBRANG JALAN), IMPIAN UNTUK MEWUJUDKAN BRT SEBAGAI MODA ANDUNGTRANSPORTASI YANG CEPAT, AMAN DAN NYAMAN TIDAK AKAN TERWUJUD. DI KOTA SEMARANG, PERJALANAN DALAM KOTA BISA ON TIME KARENA BELUM BEGITU MACET SEPERTI JAKARTA, BANDUNG DAN SURABAYA. COBA AJA KALO SUDAH BEGITU, MASIHKAH BRT SANGGUP BERTAHAN??

  2. yang bikin nggak nyaman adalah arena ngetem. Kalo BRT kan nggak boleh ngetem jadi akan lebih tepat waktu.
    Masalah angkot lainnya yang suka ngetem, sebaiknya di pindahkan rutenya agar nggak sejalan dengan BRT, dan supaya daerah yang selama ini nggak terlayani angkot bisa terlayani.
    Mengenai jalur khusus itu dibutuhkan kalo memang sudah bener-bener keterlaluan kayak Jakarta, dan perlu meyakinkan warganya bahwa kalo naik busway bener-bener anti macet.
    Kalo masalah jembatan penyebrangan saya sepakat. Seharusnya antar halte yang bersebrangan perlu dibuat jembatan penyebrangan. Jangan sampai jl Semarang-Kendal jalur cepat yang sudah lancar jadi jalur lambat gara-gara banyak orang lalu-lalang menyeberang untuk mengakses halte BRT.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.